Available for freelance and collaboration

Dari $0 ke $10K Pertama di Upwork: Perjalanan Setahun Gua Jadi Full-Time Freelancer

Hari ini, tepat setahun setelah gua kena layoff di tempat kerja lama dan total earning gua di Upwork nyentuh $10,000.

Buat sebagian orang, angka itu mungkin kelihatan sedikit. Tapi buat gua yang setahun lalu masih bingung besok mau ngapain dan nyari kerja ke mana lagi, ini adalah bukti bahwa keputusan yang gua ambil waktu itu enggak salah.

Gua mau ambil kesempatan ini buat nulis recap perjalanan gua sejauh ini. Semoga bisa jadi referensi untuk kalian yang lagi mikir buat jadi freelancer atau remote worker, atau yang baru aja kena layoff dan bingung besok mau ngapain.

Perjalanan Freelance Eris Oktafiana

A bit of background

Sebelumnya gua kerja sebagai web developer dengan rutinitas yang cukup biasa aja. Mulai bangun pagi, kerja, pulang, family time, tidur, dan ulangi lagi keesokan harinya. Enggak ada yang salah, tapi juga ga ada yang bikin excited.

Sampe suatu hari, ada pengumuman dari manajemen. Perusahaan lagi restructuring, dan gua masuk di list yang kena dampaknya.

Jujur, waktu itu rasanya campur aduk. Ada kaget, ada bingung, tapi ada juga rasa lega yang ga gua akui.

Lega karena akhirnya ada alasan yang jelas buat keluar dari rutinitas yang udah gua jalani bertahun-tahun tanpa benar-benar tahu apakah itu yang gua mau. Tapi di sisi lain, gua juga kepikiran gimana buat nyambung hidup sedangkan sisa tabungan ga banyak, anak belum ada setahun, dan kebutuhan sehari-hari ga bisa ditunda.

Setelah layoff, gua coba lamar kerja lagi ke beberapa tempat. Tapi kenyataannya ga semudah yang gua kira. Seringkali belum sampe tahap interview gua udah ditolak. Kadang karena syarat umur yang ga cocok, kadang karena alasan lain yang di luar kendali gua.

Di umur gua yang udah mau 30 tahun ini, terasa seperti dipaksa buat pensiun dini. Rasanya kayak perusahaan-perusahaan itu nyari orang yang lebih muda, lebih murah, dan bisa dibentuk sesuai keinginan mereka.

Di tengah kebingungan itu, gua inget kalau gua pernah bikin profil Upwork di tahun 2021. Waktu itu emang cuma iseng-iseng aja buat sampingan, siapa tahu ada yang masuk. Dan memang ada beberapa proyek kecil yang pernah gua kerjain sebelumnya.

Di momen itu gua kepikiran, kenapa enggak coba Upwork jadiin full-time aja ya?

Akhirnya gua duduk dan ngobrol serius sama istri. Gua bilang gua mau coba nekat fokus jadi full-time freelance.

Gua tahu ini high risk dan ga ada jaminan apapun. Yang gua punya cuma komputer, koneksi internet, dan profil Upwork yang udah lebih dari setahun nganggur. Belum lagi harus jelasin ke keluarga besar kenapa gua milih jadi freelancer padahal udah punya pengalaman kerja yang cukup.

Alhamdulillah istri support penuh. Keputusan itu jadi titik penting yang ngubah arah setahun terakhir.

Memutuskan untuk niche down

Langkah pertama yang gua lakuin setelah mutusin buat full time freelance adalah rebranding total.

Dulu waktu pertama kali bikin profil Upwork, gua nulis semua skill yang gua punya. HTML, CSS, PHP, WordPress, Shopify, Webflow, Framer, React, bahkan design grafis. Logikanya waktu itu simpel, makin banyak skill yang ditampilkan makin besar peluang untuk direkrut.

Tapi setelah banyak baca dan saran dari temen-temen gua, gua sadar ini salah. Klien yang nyari WordPress developer spesifik lebih cenderung milih orang yang profilnya fokus di situ. Bukan orang yang bisa WordPress tapi juga bisa Shopify, React, dan desain grafis. Karena di mata klien, profil kayak gitu keliatan kayak jack of all trades. Dan di dunia freelance, itu artinya master of none.

Jadi gua mutusin buat niche down dan cut profil gua sampe tinggal satu fokus, yaitu pengembangan dan desain WordPress dengan spesialisasi Elementor dan Bricks Builder.

Personal branding gua jadi WordPress Developer & Designer (Elementor & Bricks Builder Expert) di semua platform, mulai dari Upwork, LinkedIn, social media, sampai personal website. That’s it, ga lebih dan ga kurang.

Kenapa WordPress? Karena ekosistemnya luas dan market share-nya gede. WordPress powering lebih dari 43% website di seluruh internet. Gua ga tahu apakah ini bakal cukup buat survive jangka panjang, tapi setidaknya ini jadi starting point yang masuk akal.

Terus kenapa spesifik Elementor dan Bricks Builder? Karena gua udah cukup dalam sama tools ini. Gua bahkan udah featured sebagai Bricks Builder Expert di website resmi mereka. Jadi gua rasa ini jadi nilai tambah yang bisa gua tawarin ke klien.

Awalnya gua ngerasa kayak ngurangin peluang sendiri. Gimana bisa dapet proyek kalau yang gua tawarkan cuma satu hal? Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Dalam setahun terakhir, tipe klien yang masuk udah jauh lebih relevan dan conversion rate-nya naik signifikan.

Beberapa yang reach out duluan dan spesifik minta Bricks Builder atau Elementor. Mereka udah ga perlu nanya “bisa ngerjain ini atau ga?” karena seluruh branding gua udah jawab itu sebelum mereka reach out ke gua.

Awal perjalanan sebagai full-time freelancer

Proyek pertama setelah gua memutuskan untuk jadi full-time freelance ternyata bukan berasal dari Upwork, tapi dari temen gua sendiri, Imam Abullaisi. Dia nanya ke gua apakah gua bisa Webflow, Framer, dan Shopify buat ngerjain proyek-proyek klien untuk agencynya, Sawargy Agency.

Ini bukan seputar WordPress yang jadi fokus gua, tapi karena emang gua pernah handle beberapa proyek serupa dan untuk mengamankan keuangan di awal, gua bilang bisa.

Ga lama setelah Imam ngehubungin, gua langsung terjun ngerjain proyeknya. Dan di saat yang hampir bersamaan, beberapa client lama gua mulai ngontak via WhatsApp. Ada yang minta dibikinin website untuk perusahaan barunya, ada yang minta diperbaiki dan di-update websitenya, dan lain sebagainya.

Dalam hati gua berucap, “Tuh kan, kalau niat kita baik pasti ada aja jalannya. Thanks God.”

Saat itu akun Upwork gua masih belum terlalu aktif. Cuma sesekali dipakai buat submit proposal, mungkin sebulan gua cuma kirim 4-5 proposal aja. Karena gua merasa masih aman dengan beberapa proyek dari Imam dan klien-klien lama, gua ga terlalu agresif nguber klien di Upwork.

Tapi dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 10 Juli 2025, ada email masuk dari Upwork yang bikin gua kaget. Notifikasi kalau ada pesan baru yang gua terima.

Seorang agency owner ngehubungin gua. Dia lagi nyari Bricks Builder Developer buat ngembangin website klien-kliennya. Spesifik menggunakan Bricks Builder, persis seperti branding gua yang baru. Setelah berbincang beberapa saat, ga lama gua di-offer kontrak dengan bayaran $10/jam.

Dan yang bikin gua seneng, ini jadi salah satu klien yang sampe sekarang masih jadi long-term client gua. Kontraknya masih jalan, dan ini jadi salah satu sumber income stabil gua hingga sekarang.

Top rated dan 5k total earning di Upwork

Beberapa bulan berjalan, pada tanggal 31 Oktober 2025, gua akhirnya mendapatkan badge Top Rated dan total earning $5K di Upwork.

Itu adalah momen di mana gua mulai merasa bahwa keputusan buat freelance bukan keputusan yang salah. Ada bukti nyata bahwa usaha gua selama ini menghasilkan sesuatu. Bukan cuma perasaan doang, tapi ada angkanya.

Setelah gua merasa income mulai stabil, gua memutuskan untuk upgrade alat tempur. Gua beli MacBook Air dan iPhone 15 dari hasil freelance.

Bukan buat pamer, tapi karena gua butuh perangkat yang lebih mendukung pekerjaan. MacBook Air ngasih gua fleksibilitas buat kerja di mana aja, di cafe, di co-working space, atau bahkan di teras rumah kalau lagi bosen dikamar.

Ini penting buat gua. Kerja dari rumah itu enak, tapi kadang ada perasaan bosen dan stuck. Dengan laptop yang bisa dibawa kemana-mana, gua bisa ganti suasana kerja kapan aja. Dan ternyata ini ngaruh banget ke produktivitas dan mood gua.

iPhone juga bukan buat gaya-gayaan, tapi karena gua butuh device yang reliable buat komunikasi sama klien dan manage project. Plus, gua ada rencana untuk bikin konten format video kedepannya, jadi sekalian investasi buat keperluan itu.

Anggap aja ini investasi buat diri sendiri biar bisa tetap produktif dan enjoy ngerjainnya.

Finally, 10k pertama di Upwork

Setelah milestone $5K itu, kerjaan terus jalan. Kontrak sama agency owner yang dari Juli masih berlanjut, klien-klien lama masih ada yang ngontak, dan sesekali ada invitation baru masuk ke Upwork atau gua di-reach out langsung via Facebook dan LinkedIn.

Ga ada momen dramatis atau lonjakan tiba-tiba. Yang terjadi justru pertumbuhan yang pelan-pelan tapi konsisten. Bulan ini nambah sedikit, bulan depan nambah lagi. Kadang ada proyek besar yang bikin pendapatan melonjak, kadang ada bulan yang agak sepi dan gua harus ngirit.

Tapi polanya jelas: income gua naik secara bertahap.

Dan hari ini, tepat setahun setelah gua kena layoff, total earning gua di Upwork nyentuh $10,000.

Jujur, waktu pertama kali liat angka itu di dashboard, gua agak bengong dulu. Setahun lalu gua masih bingung besok mau ngapain, dan sekarang udah ada $10K yang masuk ke rekening gua dari kerja yang gua lakuin sendiri, tanpa harus pergi ke kantor dan macet-macetan di jalan.

Banyak hal yang berubah dalam setahun ini. Bukan cuma soal penghasilan, tapi juga cara gua memandang pekerjaan, waktu, dan diri sendiri. Gua belajar bahwa tidak ada jalan yang mulus untuk menuju kesuksesan. Ada hari-hari yang produktif, ada hari-hari yang terasa sia-sia. Ada klien yang menyenangkan, ada yang membuat frustrasi. Ada momen di mana gua merasa sangat percaya diri, ada juga momen di mana gua merasa tidak cukup baik.

Tapi semua itu bagian dari proses.

Kalau gua bandingkan sama setahun lalu, yang paling beda bukan cuma soal angka di rekening. Tapi rasa percaya diri gua. Dulu gua ragu apakah bisa survive jadi freelancer, sekarang gua udah punya bukti kalau gua bisa. Dan itu priceless.

Mencoba membangun mesin waktu

Setelah setahun perjalanan ini, gua merasa ada banyak hal yang gua pelajari. Bukan cuma soal teknis atau cara handle klien, tapi juga soal diri sendiri, soal keputusan, dan soal hidup secara keseluruhan.

Dan gua sadar, kalau gua ga dokumentasiin, semua perjalanan ini bakal hilang begitu aja.

Makanya gua mutusin buat mulai nulis di blog pribadi gua ini. Bukan buat jadi influencer atau apa, tapi lebih ke journal pribadi. Gua pengen catat perjalanan freelance dan hidup gua, suka dukanya, pelajaran-pelajaran yang gua dapet, dan momen-momen kecil yang kadang ga terasa penting tapi sebenernya berarti.

Selain itu, gua juga biasa pake Threads buat nulis yang singkat-singkat, kayak diary harian. Kadang cuma satu paragraf tentang klien yang bikin pusing, kadang cerita tentang proyek yang finally selesai setelah berminggu-minggu. Buat yang mau ikutin, kalian bisa follow gua di threads.com/erisoktafiana.

Tujuannya simpel. Biar nanti kalau gua baca lagi 5 atau 10 tahun ke depan, gua bisa lihat seberapa jauh gua udah melangkah. Gua bisa ingat momen-momen yang sekarang terasa biasa aja, tapi sebenernya jadi bagian penting dari perjalanan gua. Semacam membangun mesin waktu untuk diri sendiri.

Dan siapa tahu, tulisan-tulisan ini juga bisa bantu orang lain yang lagi di posisi yang sama kayak gua setahun lalu. Yang lagi bingung, lagi ragu, atau lagi mikir apakah jadi freelancer itu pilihan yang bener.

Hidup sebagai freelancer, ada enak dan gaenaknya

Setahun jadi freelancer, ada banyak hal yang berubah dari kehidupan sehari-hari gua. Dan jujur, ga semuanya bagus.

Pertama dan yang paling gua rasain adalah fleksibilitas. Gua bisa atur jadwal kerja sendiri. Kalau pagi mau jaga anak dulu atau nemenin istri ke pasar, gua bisa mulai kerja siang. Kalau malem lagi produktif, gua bisa kerja sampe larut tanpa ada yang ngatur.

Ga ada lagi commute. Ga ada lagi macet-macetan di jalan yang bikin mood udah jelek bahkan sebelum sampe kantor. Ini mungkin keliatan sepele, tapi dampaknya gede banget buat kualitas hidup gua.

Gua juga punya lebih banyak waktu buat keluarga. Dulu waktu kerja full-time, gua cuma punya waktu di malam hari dan weekend. Sekarang, kalau ada jeda antara proyek, gua bisa luangin waktu kapan aja.

Dan yang ga kalah penting, gua kerja pake tools yang gua suka, di tempat yang gua nyaman, dengan cara yang gua mau. Itu bikin kerjaan terasa lebih enjoy.

Tapi ga semuanya indah.

Ada bagian gaenaknya juga dan yang paling gua rasain, ga ada batasan yang jelas antara kerja dan istirahat. Dulu waktu kerja di kantor, ada jam masuk dan jam pulang yang jelas. Sekarang? Kadang gua kerja sampe larut malam tanpa sadar, atau buka laptop dan kerja di hari libur cuma karena ga ada yang ngelarang.

Terus ada juga rasa kesepian. Ga ada lagi ngobrol sama rekan kerja di kantor, ga ada lagi lunch bareng, ga ada lagi suasana kantor yang bikin ga terlalu kesepian. Kerja sendirian di rumah itu enak, tapi kadang bikin merasa terisolasi.

Dan yang paling bikin gua ga bisa santai sepenuhnya adalah tidak adanya kepastian.

Bulan ini income bagus, belum tentu bulan depan juga bagus. Ga ada gaji tetap yang pasti masuk di tanggal yang sama setiap bulan. Ga ada bonus tahunan, ga ada tunjangan kesehatan dari kantor, ga ada pensiun. Semua tanggung jawab gua sendiri.

Ada kalanya gua ngerasa aman karena punya beberapa klien yang kontraknya masih jalan. Tapi di belakang kepala, selalu ada suara kecil yang bilang: “Gimana kalau tiba-tiba kontraknya berhenti? Gimana kalau ga ada klien baru?”

Resiko itu selalu ada, dan gua belajar buat hidup bareng sama ketidakpastian itu. Ga bisa dihilangkan, cuma bisa diterima dan di-manage sebaik mungkin.

Today and future, takeaways

Jadi itu cerita lengkap perjalanan gua dari nol sampe $10K pertama di Upwork.

What’s next? Jujur gua juga belum tahu pasti.

Saat ini gua ga punya rencana jangka panjang yang detail. Gua cuma punya prinsip sederhana: jaga kesehatan, terus kembangin skill, dan cari income tanpa harus mengorbankan kebebasan yang udah gua dapet sekarang.

Buat rencana jangka pendek, gua bakal terus fokus ke WordPress dan Bricks Builder. Ada beberapa proyek long-term yang masih jalan, dan gua juga lagi mikirin gimana caranya diversifikasi income biar ga cuma bergantung di satu platform.

Gua harap tulisan ini bisa bermanfaat buat kalian yang lagi mikirin jalan yang sama. Kalau ada yang mau gua share sebagai takeaway:

  • Pertama, semua ini cerita gua, jalan gua. Bukan satu-satunya cara, dan mungkin bukan cara terbaik. Ambil yang cocok, buang yang ga pas. Ga ada formula pasti buat sukses.
  • Kedua, niche down itu works. Di dunia freelance, orang lebih percaya sama spesialis daripada generalis. Ga perlu bisa segalanya, cukup jadi yang paling bisa diandalkan di satu bidang.
  • Ketiga, persiapkan diri sebelum kesempatan dateng. Profil Upwork gua udah ada dari 2021, portofolio udah di-update, dan branding udah jelas sebelum gua bener-bener butuh. Kalau gua nunggu sampe kena layoff baru mulai siapin, mungkin ceritanya bakal beda. Jadi apa pun yang kalian kerjain sekarang, kerjain aja dengan benar. Siapa tahu itu jadi pintu masa depan kalian.
  • Keempat, ga perlu nunggu sempurna buat mulai. Dulu sebelum gua mulai full-time freelance, gua sempet mikir “ah nanti aja kalau bahasa Inggris gua udah lancar”, “nanti aja kalau grammar udah bener”. Tapi kenyataannya, klien ga peduli grammar kalian sempurna atau nggak. Yang mereka peduli itu apakah kalian bisa nyelesain masalah mereka. Bahasa Inggris gua juga jauh dari sempurna, tapi gua tetap bisa dapet klien, tetap bisa komunikasi, dan tetap bisa ngerjain proyek dengan baik. Yang penting mulai dulu, sempurnain sambil jalan.

Paling itu aja yang bisa gua share untuk saat ini. Kalau kalian suka dengan apa yang baru kalian baca, pastiin langganan newsletter gua. Gua bakal coba update setiap bulannya seputar journey dan kehidupan gua, serta membagikan apa yang gua pelajari dan alami.

Terima kasih

That’s all I have to share for now.

Makasih buat istri yang udah percaya dan support keputusan gua dari awal. Keputusan yang mungkin keliatan nekat, tapi tanpa support dia, gua ga akan bisa sampai di titik ini.

Makasih buat Imam Abullaisi yang udah ngajak kolaborasi di saat gua lagi butuh income pertama. Itu jadi awal yang bikin gua yakin kalau jalan ini bisa jalan.

Makasih buat semua klien yang udah percaya dan ngasih gua kesempatan. Terutama yang sampe sekarang masih jadi long-term client.

Dan makasih buat kalian semua yang udah baca sampai sini. Kalau kalian lagi di titik yang sama kayak gua setahun lalu, bingung, ragu, atau takut, semoga cerita ini bisa ngasih sedikit gambaran bahwa jalan itu ada. Ga mulus, ga pasti, tapi ada.

Terima kasih, dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Date
May 26, 2026
Category
Dear Diary

Subscribe for New Posts!

I'll send you a note whenever I publish something new. No spam, and you can unsubscribe anytime.
Please wait...

Thank you for signing up!